Rabu, 13 Agustus 2014

POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA -- Tiga anggota DPRD Lembata, Bediona Philipus, Fransiskus Limawai alias Ferry Koban, dan Yakobus Liwa, ditetapkan sebagai tersangka kasus pidana di daerah itu.

Bediona dan Ferry Koban sebagai tersangka kasus pemalsuan dokumen negara.  Sedangkan Yakobus Liwa, tersangka kasus pencemaran nama baik Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur, S.T. Saat ini penyidik sedang menunggu surat dari Gubernur NTT, yang mengizinkan pemeriksaan terhadap tiga tersangka tersebut.

Hal ini disampaikan Kapolres Lembata, AKBP Wresni HS Nugroho, S.T, melalui Kepala Sub Bagian (Kasubag) Humas,  Ipda Samsudin, di Mapolres Lembata, Senin (11/8/2014) siang. Saat itu Samsudin baru selesai dilantik menjadi Kasubag Humas menggantikan Iptu Wisok Wilhelmus Tokan yang dilantik menjadi Kasat Polisi Air Polres Lembata.

Samsudin menjelaskan, penetapan Bediona, Ferry Koban dan Yakobus Liwa, sebagai tersangka baik dalam kasus pemalsuan dokumen negara maupun kasus pencemaran nama baik Bupati Lembata, setelah penyidik Polres Lembata melewati sejumlah tahapan sesuai mekanisme hukum.

Salah satu tahapannya adalah gelar perkara di Mapolda NTT. Gelar perkara di Mapolda NTT, lanjut Samsudin, dilaksanakan 18 Juli 2014 atau dua minggu sebelum Hari Raya Idul Fitri.
Hadir saat gelar perkara tersebut, yaitu beberapa pejabat polda, Kapolres Lembata, AKBP Wresni HS Nugroho, S.T dan Kasat Reskrim, Iptu Abdul Rahman Aba, S.H. Dalam gelar perkara itu, jelas Samsudin, dibahas secara detail kasus pemalsuan dokumen negara oleh dua oknum anggota DPRD Lembata tersebut. Demikian juga dalam kasus pencemaran nama baik. Dari situlah disepakati bahwa tiga oknum anggota Dewan ditetapkan sebagai tersangka.

Setelah ditetapkan jadi tersangka, lanjut Samsudin, Polda NTT langsung melayangkan surat kepada Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya. Isi surat itu meminta gubernur mengizinkan pemeriksaan dua tersangka tersebut. Surat itu sudah dikirim sejak 22 Juli 2014 lalu.
"Sesuai aturan, gubernur memberikan jawaban atas izin pemeriksaan anggota Dewan, paling lama 30 hari terhitung tanggal surat permohonan dikirim ke Gubernur NTT, pada 22 Juli 2014. Bila hingga batas waktu 30 hari gubernur belum memberikan jawaban, polisi akan memanggil  tiga oknum anggota Dewan itu untuk diperiksa sebagai tersangka. Kami tunggu saja," tegas Samsudin.

Jika panggilan penyidik nantinya tidak diindahkan oleh tiga oknum anggota Dewan, maka penyidik akan memanggil paksa tiga tersangka tersebut untuk diperiksa lebih lanjut.
Untuk diketahui, kasus pemalsuan dokumen negara yang diduga dilakukan oleh dua oknum anggota Dewan itu, dilaporkan Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur.

Bupati melaprkan kasus itu setelah menerima surat dari Mahkamah Agung (MA) yang memintanya melakukan klarifikasi atas surat dari DPRD Lembata yang isinya meminta MA memaksulkan Sunur dari  jabatan sebagai orang nomor satu di Kabupaten Lembata.
Setelah menerima surat MA yang melampirkan pula surat permohonan dari DPRD Lembata untuk melengserkan Bupati Sunur, di mana surat itu kemudian dipelajari secara saksama lagi oleh Bupati Sunur, akhirnya ditemukan sejumlah kejanggalan.

Surat dari DPRD itu ternyata tidak sama dengan dokumen yang dipegang oleh pemerintah. Isinya pun sudah banyak yang diubah. Faktor itulah yang mendorong bupati untuk melaporkan kasus dugaan pemalsuan dokumen negara itu ke Polres Lembata.
POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA -- "Kami ucapkan proficiat kepada polisi yang telah menetapkan anggota DPRD Lembata sebagai tersangka. Ini merupakan langkah berani yang patut didukung, karena untuk pertama kalinya wakil rakyat di Kabupaten Lembata ditetapkan sebagai tersangka. Sekali lagi proficiat untuk polisi," kata Kornel.

Ia menyampaikan, DPD PAN Lembata mengacungkan jempol atas sikap tegas kepolisian yang menetapkan tiga wakil rakyat itu sebagai tersangka. Sikap tegas polisi perlu didukung, karena dilakukan untuk menegakkan hukum di daerah itu.

Sebagai warga negara yang patuh dan taat  hukum, kata Kornel, ia mendukung langkah polisi. Namun ia juga meminta agar status tersangka tiga anggota Dewan itu adalah tindakan murni kepolisian dalam menegakkan hukum di Lembata. Bukan dilatarbelakangi oleh faktor lain yang sarat kepentingan tertentu.

Ia juga mengaku sudah mendapat telepon dari Ferry Koban, yang saat ini sedang bertugas ke Jakarta. "Saya sudah ditelepon Ferry Koban. Kami juga menunggu surat dari polisi yang menetapkan Ferry Koban sebagai tersangka. Surat kepolisian itu menjadi pegangan bagi kami untuk melaporkan kasus itu kepada pengurus PAN di propinsi dan DPP PAN di Jakarta," ujarnya.

Secara internal, demikian Kornel, pihaknya sudah menyampaikan kasus itu secara lisan kepada Ketua DPW PAN NTT, Eurico Gutteres. Juga  melaporkan masalah itu langsung kepada Ketua Umum DPP PAN, Hatta Rajasa, saat datang di  Maumere, Ibukota Kabupaten Sikka, ketika kampanye pilpres beberapa bulan lalu. (kro)
POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA -- Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (DPC PDIP) Lembata, Hyasintus Tibang Burin, S.K mengatakan, partainya segera mengusulkan pemecatan Yakobus Liwa, yang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus pencemaran nama Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur, S.T.

Ia mengemukakan hal itu ketika ditemui Pos Kupang di Gedung DPRD Lembata, Selasa (12/8/2014) siang.   "Kami akan mengambil tindakan tegas, memecat Yakobus Liwa dari partai. Pemecatan itu bisa dilakukan karena yang bersangkutan melakukan tindakan yang mencoreng nama partai," tandas Tibang Burin, yang juga Wakil Ketua DPRD Lembata.

Dikatakannya, selama ini pengurus partai sudah memberikan teguran baik lisan maupun tertulis kepada yang bersangkutan. Bahkan dalam beberapa kegiatan pihaknya telah berusaha menyudahi sejumlah persoalan politik yang telah dilakukannya, secara kekeluargaan.
 Namun, lanjutnya, berbagai usaha itu tidak diindahkan, lanjut Tibang Burin, sehingga  penetapan  Yakobus Liwa sebagai tersangka oleh penyidik Polres Lembata, DPC PDIP Lembata harus mengambil tindakan tegas.

"Kami sudah punya pengalaman menyelesaikan masalah seperti ini. Dulu, periode yang lalu, kami memberhentikan Erni Manuk, kader partai yang saat itu siap dilantik menjadi anggota DPRD Kabupaten Lembata. Saat itu, kami memberhentikannya karena terbelit masalah hukum. Mungkin kali ini kami harus melakukan hal yang sama, karena Yakobus Liwa juga terbelit masalah hukum," tandas Tibang Burin.
Selama ini, lanjut Tibang Burin, ia disoroti banyak kalangan sebagai pimpinan partai yang tak mampu menegakkan  aturan partai. Sorotan itu diterima sambil berusaha melakukan berbagai upaya untuk memulihkan  dan membesarkan partai.

Akan tetapi, tandas Tibang Burin, dalam kasus hukum yang mendera Yakobus Liwa, pihaknya tak bisa lagi melakukan kompromi. Demi citra dan kepentingan partai, tegas Tibang Burin, pihaknya mengusulkan agar memberhentikan Yakobus Liwa dari PDIP.

Bila pemecatan itu dilakukan, lanjut Tibang Buring, maka dampak ikutannya mengusulkan pergantian antarwaktu (PAW). "Kalau partai mengajukan PAW, itu ibarat jalan tol. Ini akan kami lakukan," ujarnya.
Untuk diketahui, dalam masa kepemimpinannya, PDIP berhasil mengusung Eliaser Yentji Sunur, S.T, kader PDIP sebagai Bupati Lembata bersama Viktor Mado Watun sebagai Wakil Bupati. Padahal selama bertahun-tahun, Lembata dikenal sebagai gudang suara untuk Partai Golkar.

Berikutnya, dalam pemilihan umum (pemilu) legislatif 9 April 2014 lalu, PDIP Lembata  meraih mayoritas kursi di lembaga legislatif periode 2014-2019.  Bahkan karena faktor itu pula, PDIP menjadi Ketua DPRD Lembata. Padahal selama ini DPRD Lembata selalu dipimpin oleh kader Partai Golkar. (kro)

Siapa yang tak kenal Lamalera. Budaya dan tradisi penangkapan ikan pausnya sudah menggema ke seluruh pelosok nusantara bahkan dunia. Kondisi alam yang tidak memungkinkan untuk bercocok tanam, membuat mereka menggantungkan hidupnya pada hasil laut. Hasil laut akan dibarter dengan hasil perkebunan seperti jagung, padi dan kopi ke desa-desa di pegunungan.

Salah satu buruan laut yang sudah menjadi tradisi turun temurun adalah berburu ikan paus. Bagi masyarakat umumnya, berburu mamalia terbesar ini merupakan hal yang biasa, andai saja menggunakan peralatan yang canggih dan kapal yang besar.

Namun tidak demikian dengan nelayan di Lamalera. Hanya dengan menggunakan peralatan yang sederhana, monster laut itu takhluk di tangan mereka. Modalnya adalah keberanian. Keberanian untuk menghadapi mamalia terbesar ini bukan tanpa alasan. Hal ini berkaitan erat dengan perjuangan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sebagai nelayan.

Menurut cerita, tradisi berburu ikan paus di Lamalera sudah dimulai sejak abad XIV dan terus berlangsung hingga kini. Laut Sawu yang berada di antara Pulau Timor dan Pulau Lembata menjadi tempat para nelayan menangkap ikan paus.

Sumber makanan yang berlimpah yaitu plankton menjadikan laut Sawu sebagai tempat singgah gerombolan ikan paus yang datang dari kutub Selatan ke Samudera Pasifik.

Tradisi menangkap ikan paus ala Lamalera adalah atraksi yang luar biasa terutama bagi orang yang berasal dari luar daerah. Tradisi ini bisa dikatakan sebagai satu-satunya tradisi yang ada di wilayah Nusantara bahkan dunia. Hanya dengan peralatan yang sangat sederhana seperti tempuling atau harpoon tradisional dan tali, ikan seberat 15-20 ton bahkan lebih dapat ditakhlukan oleh sekelompok nelayan dengan 2 atau 3 perahu tradisional yang relatif kecil dibandingkan dengan ikan yang mereka tangkap.

Keberanian dan pengalaman yang matang dari orang-orang pilihan atau yang sudah mewarisi keahlian dari orang tua merekalah yang bisa melakukan tradisi menangkap ikan raksasa ini.

Menurut Tokoh Muda Lamalera, Gregorius B., kegiatan menangkap ikan paus didahului dengan upacara ritual. Malam sebelum musim lefa sekelompok pemilik perahu mengadakan doa bersama di rumah adat masing-masing.

Hari pertama musim lefa ini disebut dengan nama upacara tebu nama fatta. Seluruh masyarakat kampung Lamalera berkumpul di pantai berpasir di depan Kapel (gereja kecil) Santo Petrus (kapel ini terletak di tengah-tengah rumah peledang yang dibangun sejajar dengan pantai) untuk bermusyawarah mengenai penangkapan ikan paus.

“Penangkapan ikan paus ini biasanya dimulai awal Mei dan berakhir akhir Oktober. Kegiatan ini diawali dan diakhiri deng-an upacara Misa (Ibadat dalam agama Katolik),” kata alumnus IKJ ini menjelaskan.

Goris menceritakan, dalam perburuan ikan paus, seorang lamafa atau sang pemburu adalah tokoh yang sangat sentral. Seorang lamafa biasanya diturunkan dari moyangnya atau juga seorang yang memiliki kemampuan dan keberanian untuk melakukan itu. Salah satu syarat dasar menjadi seorang lamafa harus mampu berdiri dengan seimbang dan kokoh di hamalolo atau anjungan terdepan pada paledang atau perahu tradisional.

Pemilik paledang atau tena alep yang digunakan untuk menangkap ikan paus memiliki tugas untuk membagi ikan paus hasil tangkapan itu. Ikan itu akan dipotong menurut bagian-bagian yang sudah ditentukan dan dibagikan kepada mereka yang terlibat dalam proses ini.

Selain dikonsumsi, daging Ikan paus juga akan dijual atau dibarter dengan bahan makanan lain dari desa-desa terutama di pegunungan. Sementara minyak ikan dapat digunakan sebagai bakar lentra dan juga dimanfaatkan sebagai obat yang dipercaya bisa mengobati berbagai macam penyakit.

Namun, kini atraksi budaya yang sangat mengagumkan ini kini harus berhadapan dengan lembaga atau pihak-pihak tertentu yang berusaha untuk melarangnya. Dengan dalih perlindungan terhadap mamalia laut yang hampir punah ini, rencananya mereka akan mendeklarasikan kawasan laut Sawu sebagai kawasan konservasi nasional. Hal ini telah menimbulkan keresahan di masyarakat Lamalera, baik yang berada di Lamalera maupun di perantauan.

“Masyarakat sudah sangat resah dengan isu ini. Kita harus mengambil langkah nyata untuk menggagalkan upaya ini karena ini adalah tradisi turun temurun yang sudah berlangsung berabad- abad,” kata Bona Beding, salah satu tokoh masyarakat Lamalera dalam sebuah pertemuan yang diselenggarakan oleh Forum Masyarakat Peduli Tradisi Penangkapan Ikan Paus Lamalera di Jakarta.

Piter Bala Pattyona yang juga hadir saat itu menegaskan, penangkapan ikan paus di Lamalera tidak dilarang. Karena dalam konvensi PBB sudah diatur bahwa negara-negara yang dilarang menangkap ikan paus adalah Jepang, Kanada dan Norwegia. “Lamalera tidak termasuk daerah yang dilarang. Jadi kalau berbicara dalam tataran internasional, maka pihak-pihak yang hendak melarang penangkapan ikan paus ini adalah mereka yang tidak mengerti mengenai aturan dalam konvensi PBB,” kata praktisi hukum ini menjelaskan.

Piter Tedu Bataona, Ketua Keluarga Besar Lembata Jakarta menambahkan, ada beberapa hal yang menjadi pantangan para nelayan saat berburu ikan ini. Di antaranya adalah ikan hamil atau yang sedang menyusui dilarang untuk ditangkap.

Ikan yang mengangkat ekor saat hendak ditangkap juga pantang untuk ditikam karena menurut kepercayaan ikan tersebut tidak mau mati atau tidak mau menyerahkan diri. Apabila dilanggar maka sudah pasti nasib yang kurang baik akan menimpa mereka. “Seperti kejadian 10-15 Maret 1994 silam,” katanya.

Lepas dari pro-kontra di atas, beberapa pertanyaan perlu diajukan untuk mendapatkan jawaban kritis. Pertama, mungkinkah perburuan dengan alat serba tradisional memusnahkan populasi ikan paus? Kedua, bagaimana mungkin tradisi ini dapat mempengaruhi jumlah populasi?
MUSIM perburuan ikan paus di Desa Lamalera, Nusa Tenggara Timur, berlangsung pada Mei hingga Oktober. Akhir bulan lalu, wartawan Jawa Pos Tri Mujoko Bayuaji mengikuti aksi perburuan yang menegangkan terhadap spesies terbesar di laut itu.
              *****
Berburu ikan paus di laut lepas adalah tradisi unik berumur ratusan tahun yang hidup di tengah warga Lamalera. Selain hanya menggunakan peledang, yakni perahu kayu tradisional sebagai sarana perburuan, terdapat sosok lamafa. Dia memiliki tugas vital, yakni menikam ikan paus hanya dengan menggunakan sebilah tempuling atau tombak.

Karir seorang lamafa atau juru tikam di Desa Lamalera termasuk panjang. Hingga memasuki usia senja, seorang lamafa terbilang masih aktif turun ke laut untuk menikam buruan. Salah seorang lamafa senior yang hingga kini belum pensiun adalah Aloysius Gnesser Tapoona.

Alo –sapaan akrabnya– sudah berusia 59 tahun. Pada Oktober nanti, usianya sudah genap 60 tahun. Alo menuturkan, sejak 1976 memulai pekerjaannya sebagai seorang lamafa. Alo mengaku banyak belajar dari lamafa senior di masa itu. ”Saya waktu itu masih 22 tahun,” ungkapnya saat dikunjungi Jawa Pos di kediamannya di Desa Lamalera.

Sebelum menjadi lamafa, Alo hanyalah seorang pemuda yang kadang-kadang membantu ayahnya melaut. Ayahnya adalah seorang lamauri atau juru kemudi. Alo belajar menjadi lamafa tidak melalui latihan langsung, tetapi hanya mendengar dari perbincangan para lamafa ketika itu.

”Kalau zaman dulu, para lamafa sering berkumpul bersama jadi satu. Mereka duduk melingkar. Tugas saya mengedarkan tuak ke mereka,” kata Alo.

Selama minum tuak, para lamafa itu mulai merasakan mabuk. Biasanya, kata Alo, ketika itu ada saja seorang lamafa yang bercerita pengalaman-pengalamannya saat di laut. ”Ada yang cerita salah tikam, lalu yang lamafa lain menimpali, terus kasih nasihat begini baiknya. Jadi, saya awalnya memang belajar dari orang mabuk,” tuturnya sambil tertawa.

Dahulu pekerjaan lamafa diwariskan turun-temurun. Menurut Alo, di masa lalu bapak para lamafa rata-rata kikir ilmu. Dirinya bersama sejumlah pemuda saat itu adalah pendobrak tradisi, belajar menjadi lamafa hanya dengan cerita-cerita pengalaman saja. ”Kalau sekarang, saya punya banyak mahasiswa lamafa. Biasanya, kalau ada baleo (panggilan paus terlihat, Red) selalu saya panggil untuk bersama ke laut,” ujarnya.
Syarat menjadi seorang lamafa, kata Alo, adalah mental. Lamafa memiliki posisi krusial di perahu karena dituntut memiliki mental kuat dan mampu mengambil keputusan saat berburu. Selain itu, seorang lamafa harus bisa berdiri di haluan depan perahu selama berjam-jam saat melakukan perburuan.

”Masalah saat tikam tidak tepat sasaran itu lain soal karena bisa diperbaiki. Yang penting berdiri kukuh dulu,” ujarnya. Berdiri dan memegang tempuling atau tombak sambil menghadapi angin dan ombak tentu bukan hal yang mudah. Alo menuturkan, banyak orang yang bertanya mengapa seorang lamafa mampu berdiri di haluan tempuling dengan mudahnya. ”Yang penting adalah perut dan lutut tidak boleh kaku. Ikuti saja ke mana arah tamparan ombak,” ujarnya.

Untuk menjadi lamafa yang tangguh, lanjut Alo, seseorang harus belajar menangkap ikan kecil dahulu. Tetapi, Alo menyebut ”ikan kecil” yang dimaksud adalah menangkap atau membunuh ikan pari yang besarnya bisa mencapai satu meja makan. ”Kalau bisa sekali di perahu bisa tikam dua sampai tiga ikan pari, itu lamafa yang hebat. Kalau tikam ikan paus kan seperti tikam batu saja. Dia kan besar,” ujar Alo, memberikan gambaran.

Selain berburu ikan pari, para nelayan Lamalera juga berburu hiu. Hiu yang disasar pun mulai dari paus hiu, hiu martil, hiu putih. Tidak jarang, dijumpai nelayan Lamalera yang mendapatkan lumba-lumba hingga ikan kecil seperti tuna dan ikan terbang untuk kebutuhan sehari-hari. Untuk ikan kecil, biasanya para nelayan cukup menggunakan cara konvensional, yakni menggunakan jala nilon seperti halnya nelayan wilayah lain.
Seorang lamafa juga bisa diibaratkan seorang pemimpin saat perburuan. Sebab, saat melihat baleo, lamafa akan memimpin doa sebelum peledang turun melakukan perburuan. Lamafa bersama matros (tukang dayung), breung alep (asisten lamafa), dan lamauri juga tidak boleh memiliki masalah saat di darat. Masalah itu harus diselesaikan agar perburuan berjalan lancar. ”Karena kalau masih ada masalah, perburuan terkadang sulit. Ikan terus melawan, tangkapan pun bisa lepas,” ujar Alo, mengingatkan.
Jika ada masalah di darat, kata Alo, terdapat ungkapan seperti sora gei kene levo, levo rae sare hala. Ungkapan itu kurang lebih berarti bahwa kerbau (paus, Red) tidak jinak, ada masalah di kampung. ”Masalah itu bisa karena pribadi, tetapi biasanya itu masalah antarkampung,” ujarnya.
Selama lebih dari 35 tahun menjadi lamafa, Alo sudah mendapatkan lebih dari 100 paus. Sebab, dalam beberapa waktu ada masa banyak paus yang bermigrasi sehingga nelayan di Lamalera bisa mendapatkan banyak paus. Namun, lebih banyak waktu ketika Paus jarang terlihat. ”Kalau untuk tahun ini, sudah ada enam paus ditangkap,” tutur Alo.

Untuk mendapatkan paus, nelayan di Lamalera tidak begitu saja terjun ke laut dan mencari hingga ke tengah samudra Laut Sawu. Mereka tetap beraktivitas di darat, sambil sewaktu-waktu melihat ke lautan. Siapa pun yang melihat paus akan meneriakkan baleo, kemudian disambung bersahut-sahutan memenuhi isi desa. ”Siapa tahu ada semburan muncul atau ada lompatan. Nah, itu paus datang ke kami,” ujarnya.
Semburan yang dimaksud adalah pancaran air yang dikeluarkan paus saat muncul di permukaan. Nelayan di Lamalera selalu mengincar paus sperma atau koteklema yang memiliki semburan tepat di atas kening. Nelayan Lamalera tidak memburu paus biru atau kelaru yang memiliki semburan tepat di atas kepala mereka. ”Kami tidak memburu kelaru karena itu perintah nenek moyang,” kata Alo.

Selain koteklema, nelayan Lamalera juga memburu orca atau paus pembunuh. Dalam istilah Lamalera, paus pembunuh disebut dengan seguni. ”Tapi, seguni jarang lewat ke sini. Biasanya satu kali setahun atau tidak sama sekali. Seguni juga ganas karena berontak lebih parah,” ujarnya.
Jawa Pos yang sudah menyiapkan diri untuk mengikuti perburuan paus terpaksa harus gigit jari. Sebab, ditunggui sampai tujuh hari, paus sperma tidak kunjung muncul. Selama sepekan itu, para penduduk Desa Lamalera melakukan serangkaian prosesi adat, sambil melihat Laut Sawu, barangkali ada koteklema yang terlihat. Para nelayan hanya menemukan semburan kelaru atau paus biru. Kelaru yang terlihat sangat dekat, hanya sekitar 200 meter dari bibir pantai Laut Sawu.
Tantangan seorang lamafa saat menaklukkan paus terjadi ketika akan menghunjamkan tombak. Untuk koteklema, tombak dihunjamkan tepat di belakang kepala karena di situlah bagian yang lunak. Sebaliknya, memburu seguni lebih sulit karena para nelayan Lamalera mengincar bagian ketiaknya agar tempuling bisa menusuk langsung ke jantung paus pembunuh itu.

”Kalau sudah kena tikam, pasti perahu diseret bisa masuk ke dalam,” kata Alo.
Tikaman pertama amat krusial. Nyawa lamafa dan awak perahu menjadi taruhan. Sebab, satu sabetan ekor paus bisa seketika menghancurkan perahu nelayan. Para nelayan harus menunggu sampai paus itu lemas. Dalam hitung-hitungan Alo, biasanya paus akan lemas setelah 45–50 menit. Darah akan menggenangi laut dan paus akan kembali ke permukaan.
Saat itu paus akan didekati dan awak perahu terjun ke badan paus untuk kembali melakukan tikaman dengan pisau. Jika perlu, tikaman bisa dilakukan hingga berkali-kali. Tujuannya, memastikan paus itu mati saat dibawa ke darat.

Lamafa senior lainnya, Rofinus Sanga, 57 tahun, menyebut jika yang diburu adalah satu atau dua paus, prosesnya akan relatif lebih mudah. Aturannya, peledang yang pertama berada di dekat paus itulah yang berhak untuk menikam lebih dulu. Peledang lain hanya bisa menunggu dan bisa membantu jika peledang yang pertama membutuhkan bantuan. ”Tapi, lain persoalan jika pausnya bergerombol,” kata Sanga saat ditemui tengah berada di pinggir pantai utama Desa Lamalera.
Sanga mengibaratkan paus yang bermigrasi sendirian itu seperti remaja yang tengah pergi berpetualang sendiri. Jika ada gerombolan paus, itu adalah kumpulan keluarga besar, mulai dari yang paling tua dan paling besar, sampai ke keturunannya yang memiliki ukuran agak kecil. ”Itu mulai dari ibunya sampai cucu-cucunya, ada semua. Terkadang sampai 30 ekor,” ujar Sanga.
Risiko yang sering terjadi di perburuan paus berkelompok, kata Sanga, adalah tali yang terkait dengan tempuling akan terbelit-belit. Karena paus akan berontak dan bergerak ke sana kemari. Karena itu, sebelum menancapkan tempuling, setiap peledang harus tetap bersabar, sambil berusaha memisahkan kelompok paus besar itu dalam jarak perburuan yang berbeda. ”Lebih baik tangkap lebih banyak paus karena banyak orang di desa yang menunggu,” ujarnya.
Selain perburuannya yag menegangkan, pembagian daging paus hasil buruan juga merupakan ciri khas tersendiri masyarakat Lamalera. Sanga menyatakan, pembagian daging paus sudah merupakan kebiasaan turun-temurun sehingga dipastikan tidak ada rebutan saat daging itu dipotong. Intinya, pihak yang memiliki keterkaitan dengan Desa Lamalera, dengan perahu yang mendapatkan paus, akan mendapatkan haknya.
”Masing-masing sudah tahu hak dan pembagiannya,” ujarnya. Pola pembagian ini memang dikhususkan untuk ikan-ikan yang berukuran besar.

Untuk mereka yang berburu di laut, sudah ada aturan pembagiannya. Sanga memberikan contoh, selain peledang, ada juga perahu johnson atau perahu dengan motor yang mengikuti perburuan. Jika di peledang ada sembilan awak perahu dan di johnson ada dua awak, mereka semua mendapatkan haknya.  ”Di johnson itu ada tukang kemudi, ada tukang bantu tarik tali,” ujarnya.

Para awak perahu mendapatkan bagian paus yang diistilahkan dengan meng. Untuk meng ini, banyak bagian yang bisa dipotong dan dibagi-bagikan ke awak perahu.
Benda mati pun, kata Sanga, juga mendapatkan hak daging paus. Peledang dan johnson akan mendapatkan bagian. Ini belum termasuk hak yang didapat pemilik peledang dan pemilik johnson. Atamola atau arsitek pembuat perahu meski tidak memiliki peledang dan johnson juga mendapatkan haknya.
Bagian sirip kanan dan kiri, misalnya, sudah dipastikan masing-masing untuk rumah adat dan lamafa. Bagian kepala diberikan kepada lango fujo atau suku tuan tanah. Ekor dibagi menjadi banyak bagian karena di sana terdapat hak lamafa, laba ketilo, matros, lamauri. Para janda juga mendapatkan hak daging paus. ”Mama janda pasti mendapatkan hak karena mereka biasanya kasih jagung atau kasih rokok ke kami,” ujarnya. (bay/c1/kim)www. jawapos.com

Selasa, 12 Agustus 2014

Bukit Senyum Waijarang
Pantai Waijarang di desa Waijarang, kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, perlahan mulai dikenal orang. Selain keindahan pantainya yang begitu mengagumkan, desa Waijarang juga merupakan desa pemukiman baru yang dibangun untuk para pengungsi Timor Timur dan Ambon asal Lembata.

 Berpergian ke Waijarang untuk menunggu datangnnya kapal Feri tentu tidak membuat orang menjadi bosan. Sebagai daerah pantai berpasir putih, pantai Waijarang menyuguhkan keindahan serta kenyamanan bagi mereka yang ingin melepas lelah di sini.

 Memang sudah lama pantai ini digunakan sebagai tempat rekreasi. Pasir putih dengan hutan yang diselengi bakau dan pohon-pohon lainnya yang menghijau telah terlanjur memanjakan pengunjung pantai. Gelombang laut-nya pun tidak seberapa, tenang, bergulung-gulung, dan indah dipandang mata.
 Begitupun, tak ada perasaan was-was bagi mereka yang memilih untuk mandi di Pantai Waijarang. Sepanjang 10-20 meter dari bibir pantai, kedalaman air hanya setinggi ukuran tubuh anak-anak juga ada yang setinggi orang dewasa. Setiap orang bebas memilih dimana ia akan berendam. Di kawasan Barat pantai Waijarang, pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata telah membangun lopo-lopo (rumah-rumah kecil) sebagai tempat berteduh pengunjung. Di tempat ini, fasilitas kamar mandi, toilet dan air cukup memadai. Ada juga fasilitas ruang pertemuan yang berada persis di bagian tengah lokasi. Banyak pengunjung yang datang, seakan tidak dibiarkan begitu saja oleh penduduk setempat. Sebagian besar masyarakat desa Waijarang mulai menangkap peluang dengan menjual makanan dan minuman ringan. Tidak terlewatkan dari jajanan pasar yang tersedia, makanan lokal pun terjual di sana. Ada ikan bakar, jagung titi, kacang-kacangan, umbi-umbian, buah-buahan, tuak, dan minuman ringgan buatan penduduk setempat
Maaf Dalam Proses Pengembangan

Pos Kupang

Sample Text

"Selamat Datang,Terima Kasih Atas Kujungan Anda"

KapanLagi.com

Popular Posts

Text Widget



"Selamat Datang,Terima Kasih Atas Kujungan Anda"


Maaf Dalam Proses Pengembangan