Jumat, 03 Agustus 2012

Alex Karangora Jadi Ketua KPU Lembata

LEWOLEBA, POS KUPANG.Com -- Alexius Rehi Karangora, S.H ,ketua kelompok kerja (Pokja) sosialisasi Komisi pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Lembata, terpilih sebagai Ketua KPU Kabupaten Lembata. Alex menggantikan Wilhelmus Panda Mana Apa, S.Ip yang mengundurkan diri.

Informasi yang dihimpun Pos Kupang.Com, Alex terpilih dalam pleno KPU Kabupaten Lembata di Kantor itu, Minggu (24/4/2011) sekitar pukul 22.00 Wita. Dalam pleno itu, Alex Rehi dan Satria Wulan Betekeneng diusulkan kemudian terjadi pemilihan. Dipandu Sekretaris KPU Kabupaten Lembata, Adrianus Satu, BA, Rehi akhirnya terpilih dengan perimbangan suara 3:2 atas Betekeneng.

Rehi yang dihubungi, Senin (25/4/2011) malam, membenarkan hal itu dan mengatakan hasil pleno itu diajukan ke KPU Propinsi NTT untuk diproses lebih lanjut.

Editor Sipri Seko

Senin, 19 Maret 2012

Teroris Incar Tiga Tempat di Bali

Penembakan terhadap lima orang yang diduga teroris diyakini bisa mendongkrak citra pariwisata Bali di dunia internasional.

KEPALA Badan Nasional Penanggulangan Teroris Ansyaad Mbai menegaskan lima orang yang ditembak mati oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 di Bali, Minggu (18/3) malam, adalah teroris. Mereka menargetkan toko emas, money changer, dan kafe di Bali sebagai sasaran teror.

"Itu teroris, jaringannya banyak. Terkait dengan jaringan (perampok bank) CIMB di Medan (pada 2010), ada juga jaringan Solo, dan ada beberapa tempat lagi yang belum bisa saya sebutkan," ujar Ansyaad dalam Rapat Dengar Pendapat dengan DPR, kemarin.

Menurutnya, kelima orang itu sudah masuk daftar pencarian orang (DPO) polisi. Mereka membiayai aksi-aksi teror dari hasil merampok dan menjadikan Bali sebagai sasaran berikutnya. "Sasarannya ada di Bali, pokoknya di Bali. Ini kan sudah tiga bulan diikuti, bukan ujug-ujug seperti itu," jelas Ansyaad.

Namun, ia mengatakan Bali masih aman. Ansyaad berharap penggerebekan tersebut bisa memberikan rasa aman bagi turis lokal maupun mancanegara.

Kabid Humas Polda Bali Kombes Hariadi juga memastikan bahwa mereka yang ditembak merupakan kelompok teroris, salah satunya DPO kasus CIMB Medan berinisial HN, 32, asal Bandung, Jawa Barat. "Mereka masuk Bali untuk merampok di beberapa tempat," jelasnya di Kantor Polda Bali, kemarin.

Menurut Kadiv Humas Polri Irjen Saud Usman Nasution, pelaku telah memetakan tiga tempat sebagai sasaran teror. "Targetnya lebih dari tiga, tapi yang dipetakan yakni sebuah money changer (PT Bali Money Changer, Jl Sriwijaya, Kuta), toko emas (di Jl Uluwatu, Jimbaran), dan Cafe Lavida Loca."

Penembakan terhadap pelaku terjadi di Jalan Gunung Sapotan, Denpasar, dengan korban HN dan AG, 30, warga Jimbaran. Adapun tiga orang yakni UH alias Kapten, DD, 27, asal Bandung, dan M alias Abu Hanif, 30, asal Makassar, Sulsel, ditembak di Jl Danau Poso, Sanur, Denpasar.

Tindakan tegas dilakukan Densus 88 karena mereka melawan saat hendak ditangkap. Sempat terjadi adu tembak sebelum pelaku yang masuk ke Bali pada 17 Maret 2012 itu dilumpuhkan. Aparat menyita dua pucuk pistol jenis FA, dua magasin, 48 butir peluru kaliber 9 mm, dan penutup wajah.

Jenazah korban dibawa ke RS Polri, Kramatjati, Jakarta Timur, untuk diautopsi. Sebelum ditembak, pelaku yang sempat singgah di Hotel Laksmi, Sanur, memesan empat perempuan untuk diajak kencan.

Hingga kemarin, aktivitas warga maupun wisatawan di lokasi penembakan berlangsung seperti biasa. Praktisi pariwisata Bali I Gusti Kadek Heryadi Angligan justru menilai keberhasilan polisi menembak teroris sebelum beraksi itu itu bisa mendongkrak citra pariwisata di Pulau Dewata. "Wisatawan internasional akan berpikir aparat kita sigap mengantisipasi terorisme," jelasnya.

Di sisi lain, pengamat terorisme Mardigu Wowiek Prasantyo menyatakan penembakan lima teroris di Bali kuat terindikasi sebagai upaya pengalihan isu. "Dari daftar nama yang dirilis polisi, beberapa memang buronan teroris yang selama ini dicari. Namun, kuat dugaan penyergapan ini dipakai sebagai upaya mengalihkan isu, entah itu soal BBM yang bakal naik atau yang lain," tukasnya.

Mardigu juga mempertanyakan tewasnya mereka, padahal dalam penyergapan hanya ada dua senjata api jenis FN yang disita. Hal senada dilontarkan pengamat intelijen Wawan Purwanto. (HZ/RS/OL/EM/X-16)

Rita Ayuningtyas, rita@mediaindonesia.com

Jumat, 24 Februari 2012

Kebakaran Rumah Nyaris Merembet ke Gereja Baneux

LEWOLEBA--MICOM: Kebakaran yang menghanguskan sebuah rumah di wilayah 7 Maret, Kelurahan Lewoleba, Kabupaten Lembata, Jumat (24/2), nyaris merambat dan membakar gereja St Maria Baneux Lewoleba dan rumah penduduk serta sejumlah ruko.

Aparat kepolisian resor Lembata dibantu warga yang bergerak cepat akhirnya memadamkan kobaran api yang telah menghanguskan rumah tersebut dalam hitungan menit.

Api diduga berasal dari lilin yang dipasang diatas kursi plastic berwarnah hijau. Hingga kini, polisi masih menyelidiki penyebab kebakaran tersebut.

Bediona Philipus, anggota DPRD Kabupaten Lembata yang rumahnya bersebelahan dengan rumah yang terbakar mengatakan, kobaran api dan asap berasal dari dalam kamar.

"kebetulan saat listrik mati beberapa jam, pemlik rumah pasang lilin di atas kursi plastik di kamar. Lilin tersebut lupa dimatikan dan menghanguskan rumah ini," ujarnya. (OL-11)

Jumat, 19 Agustus 2011

Tidak Punya KTA Push Up 10 Kali

Kamis, 18 Agustus 2011 | 22:31 WITA

POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA -- Anggota Polri di Polres Lembata yang kedapatan tidak memiliki kartu tanda anggota (KTA) diberi hukuman 10 kali push up dan diberi tenggang waktu satu minggu untuk mengurusnya.
Disaksikan Pos Kupang, Selasa (16/8/2011) pagi, seluruh anggota Polres Lembata termasuk kapolres dan para perwira diperiksa bagian provost.


Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Yang diperiksa adalah panjang rambut, kesesuaian seragam, kartu tanda anggota (KTA), kartu tanda penduduk (KTP) dan surat izin mengemudi (SIM).
Kepada puluhan anggota yang tidak memiliki kartu tanda anggota (KTA), Kapolres Lembata, AKBP Martin Johanis, langsung menegur dengan memberi perintah paling lama satu minggu semua sudah punya KTA.


Sementara Wakapolres Lembata, Kompol Giyarto langsung memberi sanksi 10 kali push up. Mendengar perintah wakapolres, puluhan anggota polisi yang belum memiliki KTA serentak melakukan aksi push up sesuai perintah.


Kasubag Humas Polres Lembata, Aipda Rajab Wuakero kepada Pos Kupang di sela-sela pemeriksaan itu, mengatakan, para anggota yang tidak memiliki kelengkapan itu sebenarnya sudah diperingatkan berulang kali, namun hingga hari itu belum memiliki KTA. Karena itu, demikian Wuakero, anggota-anggota itu selain diberi kesempatan untuk mengurus KTA, juga akan diberi sanksi yang tegas.


“Kepolisian Resor (Polres) Lembata selalu menggelar operasi rutin bagi seluruh anggota kepolisian. Operasi rutin ini dilakukan setiap bulan di Mapolres Lembata,” katanya.
Editor : Bildad Lelan »» Penulis : EDY BAU »» Sumber : POS KUPANG CETAK

Rabu, 10 Agustus 2011

Peserta Sail Kesulitan Mendapatkan Air Bersih

Rabu, 10 Agustus 2011 | 23:21 WITA

POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA -- Para peserta Sail Indonesia kesulitan mendapatkan air bersih atau air kran di Kota Lewoleba. Ini terbukti dari pengalaman dua peserta Sail Indonesia, Mr. Jeff bersama isterinya.


Pada Selasa (9/8/2011) siang sekitar pukul 12.00 Wita, Mr. Jeff dan isterinya menenteng tas besar. Keduanya tampak berjalan sambil menoleh ke kiri dan ke kanan mencari kalau-kalau ada kran yang ada airnya untuk diambil.


Ternyata, tas yang mereka tenteng itu berisi botol-botol air yang hendak diisi. Tiba di depan Kantor Pemasaran SKH Pos Kupang dan FloresStar keduanya menemukan kran air lalu meminta izin untuk mengambilnya. Keduanya sempat bertanya, air di kran ini berasal dari mana, apakah air ini bisa langsung diminum atau tidak. Setelah diberi penjelasan, keduanya hanya mengangguk dan mengatakan air yang diambil itu hanya untuk membasuh muka dan tangan ketika mereka berada di atas kapal.


Dalam bahasa Indonesia yang sepotong-sepotong, keduanya mengisyaratkan kalau di Kota Lewoleba sangat sulit mendapatkan air kran. “Susah ya dapat air?” kata Mr. Jeff.
Setelah botol-botol berukuran sedang dalam tasnya terisi penuh dengan air, keduanya baru beranjak pergi sambil tak lupa mengucapkan terima kasih dan membeli jajanan kepada anak-anak yang mengerumuni mereka.


Sebelumnya, Senin (8/8/2011) siang, Daniel, pramuwisata dari Dinas Pariwisata yang bertugas menjelaskan tempat-tempat di Lewoleba sempat kewalahan saat para bule menanyakan air tempat mencuci. Tidak kehilangan akal, Daniel pun menunjukkan air tempat tukang ojek mencuci sepeda motor di samping pelabuhan laut Lewoleba.
Editor : Bildad Lelan »» Penulis : EDY BAU »» Sumber : POS KUPANG CETAK

Sabtu, 06 Agustus 2011

SPG Cantik Ini Dimesumi Bocah 13 Tahun

KUALA LUMPUR, KOMPAS.com - Sebanyak tiga pelajar pria di Port Klang, Selangor, ditangkap polisi karena beramai-ramai memperkosa seorang sales girl. Situs harian The Star, Sabtu (6/8/2011) memberitakan, salah seorang tersangka masih berusia 13 tahun.

Dia bersama dua pelajar berusia 15 dan 16 tahun, memperkosa sales girl cantik, yang malang itu di teras sebuah rumah di Port Klang, kota pelabuhan tidak jauh dari Kuala Lumpur.

Para pelajar tersebut ditangkap Selasa petang. Salah seorang pelaku berpura-pura hendak mengantar sales girl yang sebelumnya sudah dikenal itu ke tempat kerja.

Alih-alih diantar ke tempat kerja, pelaku membawa korban ke sebuah rumah kosong di mana dua orang temannya menunggu. Korban berusaha melarikan diri tetapi terpojok hingga akhirnya dia diperkosa secara bergiliran oleh para pelajar bejat itu.

Seorang juru bicara Ibu Pejabat Polis (Polsek) Klang Utara menjelaskan, para tersangka ditahan hingga Senin (8/8/2011) depan untuk dimintai keterangan.

Pemilik rumah yang dijadikan lokasi kejahatan juga sudah dimintai keterangan. Para pelajar tersebut diketahui masih akfit bersekolah. (Thestaronline.com/Iwan Santosa)

Paripurna DPRD Soroti Mutasi PNS

Sabtu, 6 Agustus 2011 | 22:38 WITA

POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA -- Rapat Paripurna DPRD Lembata, Rabu (3/8/2011) malam memanas lantaran empat fraksi di DPRD menyoroti mutasi pejabat eselon III dan IV lingkup Pemkab Lembata yang dilakukan justru di akhir masa jabatan Drs. Andreas Duli Manuk yang tinggal menghitung jam.


Empat fraksi, yakni Fraksi Partai Golkar, Fraksi PDI Perjuangan, Fraksi Nurani Peduli Keadilan, dan Fraksi Gabungan Kemudi, mempertanyakan mutasi yang dilakukan Bupati Lembata, Drs. Andreas Duli Manuk dan Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan (Baperjakat) dalam pendapat akhir fraksi terhadap enam buah Ranperda Lembata tahun 2011.


Fraksi Partai Golkar dalam pendapat akhir yang dibacakan, Simon Beduli, menyatakan keheranannya atas mutasi pejabat eselon III dan IV yang dilakukan pada hari-hari terakhir menjelang berakhirnya kepemimpinan Bupati Lembata periode 2006-2011.


“Apalagi terhadap seorang oknum pejabat yang dilantik dua kali dalam jangka waktu 2 x 24 jam. Aneh bin ajaib, tapi itulah realitas di kabupaten kita tercinta ini. Pertanyaannya, apakah mutasi ini didasarkan pada analisis yang cermat atau didasarkan pada kepentingan udang di balik batu?” tanyanya.


Fraksi PDI Perjuangan melalui Yakobus Liwa mengatakan, baperjakat dalam hal ini Sekretaris Daerah (Sekda) Lembata dan jajarannya atas pertimbangannya secara arogansi telah melakukan mutasi besar-besaran terhadap 200-an lebih pejabat eselon III dan IV.


Bagi F-PDI Perjuangan, mutasi ini walaupun menjadi kewenangan Bupati Lembata, namun secara politik Fraksi PDI Perjuangan berpendapat bahwa mutasi yang dilakukan ini sarat dengan kepentingan tertentu. Mestinya mutasi itu tidak boleh dilakukan oleh bupati yang sejak keputusan mutasi itu dikeluarkan, masa jabatannya tinggal tujuh hari lagi. “Pertanyaannya, apakah mutasi yang dilakukan itu adalah sebagai bentuk balas jasa atau ucapan terima kasih Bupati Lembata di akhir masa jabatannya atau ada skenario untuk menciptakan konflik antara PNS dengan Bupati dan Wakil Bupati Lembata yang baru?


Menurut fraksi ini, mutasi yang dilakukan dianggap sah-sah saja. Tetapi ketika kita menilik ke belakang, sepanjang lima sampai 10 tahun masa kepemimpinan Bupati Drs. Andreas Duli Manuk, mutasi yang dilakukan justru banyak yang tidak sesuai dengan kepangkatan dan disiplin akademik serta kemampuan seseorang untuk ditempatkan sesuai bidang tugas. Daftar Urutan Kepangkatan (DUK) diidentifikasi menjadi daftar usulan keluarga (DUK).


“Di lingkup RSUD beredar rumor bahwa siapa yang baik dan dekat dengan anaknya sekda pasti mendapat posisi dan jabatan yang baik pula. Pertanyaannya, apakah anaknya sekda ikut menentukan kepangkatan dan jabatan seorang PNS? Rupanya baperjakat identik dengan badan pertimbangan jatah dan kepangkatan keluarga,” demikian pendapat fraksi ini.
Editor : Bildad Lelan »» Penulis : EDY BAU »» Sumber : Pos Kupang Cetak